spasi spasi

Bagai kumpulan text, perlu ruang kosong untuk dapat membacanya dengan jelas.

Bagai lokasi, perlu jarak untuk membuatnya tidak sesak.

Bagai runutan peristiwa, perlu jeda untuk mampu mengenang episode yang sudah dilalui.

Bagai gerak, perlu kejap tarikan nafas untuk terus melaju

Tuesday, April 04, 2006

Duhai Terkasih, Sabar Ya…

Yang terkasih Ibu dan Bapak, Sungguh karunia yang besar yang diberikan Allah kepadaku, karena kalian masih mendampingi, bahkan memanjakan aku, hingga usiaku sekarang. Kasih sayang yang teramat sangat lengkap yang kuperoleh dari kalian, tak mungkin sanggup kubalas, walau seujung jari.

Ibu dan Bapak tercinta, sang waktu terus merambat mengiringi pengharapan dan usia kalian. Harap yang senantiasa dilantunkan dalam tafakur di sepertiga malam. Melalui bahasa hatiku yang kerdil, aku mencoba memahami (dan memenuhi) harap Ibu dan bapak.

Wahai orangtuaku yang dirahmati Allah, aku selalu teringat wajah sumringah Ibu yang berbahagia ketika temannya bercerita tentang bibir mungil yang bertutur cerdas. Dan tak mungkin kupungkiri, aku begitu terpesona, melihat Bapak yang terbiasa tegas menjadi sebegitu ceria saat menggoda wajah polos berusia satu tahun.

Perlahan tapi pasti, kutahu Ibu dan Bapak mengharapkan hadirnya makhluk mungil penerus dinasti yang sudah kalian bangun. Terkadang pabila harapan itu begitu membuncah, kalian membuatku tersipu untuk bersegera memberi andil pada generasi yang sedang dibangun ini.

Duhai orangtuaku yang kusayang, Bukan aku tak mau bersegera untuk memberi andil pada dinasti ini. Bukan aku menyulitkan hal-hal yang sebenarnya dimudahkan oleh Allah. Aku hanya sedang mempersiapkan dermaga yang terbaik dan memantapkan pilihan kapal mana yang hendak berlabuh.

Ibu dan Bapak, bersabar yah … Aku pun ingin bersegara pada RidhoNya dalam menggenapkan separuh Dienku. Aku tidak menanti kapal pesiar mewah seperti Titanic atau Awani dreams atau Queen Elizabeth. Tidak…. Bukan kebendaan yang kunantikan. Satu yang kunantikan dan kuupayakan adalah kemantapan dariNya. Kubutuh kemantapan itu karena aku hanya mengharapkan satu buah dermaga untuk satu kali bertambat, tentunya dengan ridho dariNya.

Duhai Ibu Bapak yang senantiasa mendoakan aku dalam lantunan ijabah. Kesabaran kalianlah yang menjadi penguat untuk hati yang terkadang lelah mencari ini. Kuhanya berharap RidhoNya dan restu kalian untuk suatu saat berangkat mengarungi bahtera yang dipenuhi riak lembut dan ombak pasang itu.


4/4/2006
cozy room, sekitar Isya.

1 comment:

faizah qurrota a'yun said...

duhai ibu bapak... mengapa yang jauh dinanti, namun yg dekat ditunda??
duhai kakakku.. miss u..