spasi spasi

Bagai kumpulan text, perlu ruang kosong untuk dapat membacanya dengan jelas.

Bagai lokasi, perlu jarak untuk membuatnya tidak sesak.

Bagai runutan peristiwa, perlu jeda untuk mampu mengenang episode yang sudah dilalui.

Bagai gerak, perlu kejap tarikan nafas untuk terus melaju

Thursday, April 12, 2007

CHAMOMILE

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i

CHAMOMILE

Salah satu referesi teh herbal yang aku suka selain teh hijau dan chrisantinum.

Pertama kali aku mengenalnya sewaktu coffee break di sebuah hotel berbintang (he..he.. udah ¼ abad usiaku, baru kenal ada jenis the ginian. Kemana aje Neng???). Dia lebih menarik perhatianku ketimbang Black Tea ataw England Tea. Truz aku cobain, rasanya tawar gimanaa gitu, dan kucampurlah madu biar segar.Selain rasa, aromanya itu lho yang sungguh menggoda.

Kalo dilihat tampilan bunganya, ia sederhana dibandingkan mawar atau tulip atau anggrek yang colorful itu. Niyh salah satu tampilan bunga yang masih keluarga sunflower itu :




Mungkin karena aku menyukai hal-hal yang simplicity, maka tampilan sederhananya itu malah bikin menarik perhatianku. Tapi inside its simplicity, it’s able to spread the relaxing atmosphere. Isilahnya menenteramkan… hm… membuat nyaman. Ya, kurang lebih gitu deyh.

Asiq banget ya, kalo kita atau teman kita modelnya seperti si chamomile. Dari luar sederhana (tapi teteup cantik secara oleh ALLAH semua wanita diciptakan cantik) dan dari dalam dirinya bisa menyebarkan efek menenteramkan dan memberikan kenyamanan

kalo boleh di-personidikasi-kan, chamomile itu seperti sosok ibu kita ya. Tampilan Ibu kita itu cantik dari dalam. Ada aura yang keluar dari dalam dirinya, walaupun tampilan default kesehariannya sederhana saja (tapi jauh dari ‘butek’ lho). Subhanallah ... rumah itu begitu sangat nyamannya apabila ada kehadiran ibu kita. Dari yang simple, semisal panggilan lembutnya saat membangunkan kita, tangan cekatan saat mengolah bahan makanan, dekor rumah, ngerawat tanaman imut di pot kembang rumah, bangun paginya untuk buat sarapan buat kita, dengerin ‘toxic’ yang kita bawa dari tempat kerja, dan seabreg lainnya. Dan efek itu pun ga hanya berasa di kita sebagai anak, tapi juga pada para bapak, yang walaupun bukan tipe romantis, tapi secara implisit jelas sekali para bapak selalu nge’demand’ kehadiran Sang Nyonya.

Ga heran ya, Rasul nyuruh menghormati Ibu kita 3 x, baru setelah itu Bapak kita. Output sayang dari seorang ibu itu anytime anywhere deyh. Makanya, kalo aku buat salah dan bikin ibu ‘naik tensi’, walaahhh... aku langsung ciut seciut-ciutnya, Feeling guilty abizz.

It’s amazing to b a great Mom. Could I [we]?

Ba'da Maghrib 12/4/2007 di sudut cozzy.

No comments: