spasi spasi

Bagai kumpulan text, perlu ruang kosong untuk dapat membacanya dengan jelas.

Bagai lokasi, perlu jarak untuk membuatnya tidak sesak.

Bagai runutan peristiwa, perlu jeda untuk mampu mengenang episode yang sudah dilalui.

Bagai gerak, perlu kejap tarikan nafas untuk terus melaju

Monday, March 03, 2008

Sakit Mental

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i

Tulisan ini dilandasi kebencian saya dan 'racauan' saya ketika melihat berita-berita di televisi tentang orang yang meninggal karena kelaparan, ada ibu yang hamil, ada anak kecil, dan juga ada yang meninggalnya karena bunuh diri karena himpitan ekonomi. Ouugh... betapa saya membenci melihat kemiskinan melanda negeri saya. Konon kabarnya sekitar 50 % rakyat di negara yang menjadi tempat hidup saya, adalah miskin. *sigh ...

Miskin itu memang sunatullah. Pasti ada di setiap zaman. Dan ALLAH menciptakan sesuatu itu useful, agar kehidupan ini berjalan dengan harmonis. Ga enak juga kalo semuanya the have. kemana jiwa dermawannya akan disalurkan?

Miskin di negara manapun pasti ada. Tapi orang-orang miskin di negara saya itu menjadi miskin karena dimiskinkan oleh saudara-saudaranya, orang-orang kaya yang bermental miskin. Bermental dhu'afa. Bermental tangan di bawah. Mungkin penampakannya sama, dengan mental kapitalis yang ingin menguasai dan memiliki banyak hal sehingga menghalalkan segala cara.

Miskin = kekurangan. Kekurangan = harus ditambah biar jadi berkecukupan. Menurut saya niyh, kayanya orang-orang kaya atau pejabat atau kongloerat di negara saya ini tuh bawaannya kuraaaaaannnnggg aja. Wadouw! Lebih miskin dari orang miskin sedunia deyh. Bayangin. Udah punya penghasilan yang lebih dari cukup, masih aja getol ngantongin harta rakyat. Devil side nya manusia tuh. Ga bisa ngeliat gepokan 100 rebu nganggur, pasti pengen dimiliki. Tapi yang lebih kacau dan devil bangets adalah .... kalo beras untuk orang miskin masih dikorup, bantuan bencana alam masih dikorup. Masya ALLAH.... tuh koruptor pada kere banget apa yak??? Sampe-sampe rela ngegerogotin barang haram? idih... kalo boleh dipersonifikasikan, kelakuan kaya gitu kaya tikus got kali yah.

Dan bayangkan sodara-sodara .... Bangsa saya ini yang katanya mengasihi sesama, tenggang rasa, dan sejuta bullsh*t lainnya ala pancasila, pada kenyataannya jauh panggang dari api. Di suatu pojok negara ada orang yang sedang meregang nyawa nahan laper, di sudut lain ada orang-orang yang ngabisin paling sedikit 600 rebu cuman buat ngelihat orang tebar pesona di atas panggung. Innalillaah... Wa Inna Ilaihi Rooji'un. turut berduka atas kematian simpati dan empati antar sodara sesama bangsa.

Duh...

OK. Kalo cuma meracau, anak SD juga bisa. Tapi saya sudah lulus SD 15 tahun yang lalu. Jadi tulisan saya musti ada solusinya. Solusi konkret adalah ...

UBAH MENTAL DAN MINDSET DARI MENTAL MISKIN JADI MENTAL KAYA !!!

Dengan mengubah mental dan mindset, maka oran ga akan menadah bahkan menggerogoti haknya orang lain. Malah akan menambah kebersahajaan, dan merasakan rasa syukur yang ajaib sekali.

Wisma Antara 11th Floor jam 3.08 PM, di Senin 3/3/2008
Penulis adalah yang tinggal di lingkungan orang kaya sesungguhnya, dimana ada satu orang kaya itu yang PNS guru SMP negeri di Jakarta dan punya 3 anak, dan wajahnya selalu tenang, dan tidak pernah penulis mendengar keluhan mereka tentang ini itu, tentang pengen rebutan minyak tanah de el el. Enak euy jadi orang kaya yang sesungguhnya.

1 comment:

selvy said...

Saya lagi Blogwalking. Aih, saya suka sama tulisan mbak. Setuju banget, ayo kita bikin perubahan!! ;)

Btw, boleh saya link ga blognya??