spasi spasi

Bagai kumpulan text, perlu ruang kosong untuk dapat membacanya dengan jelas.

Bagai lokasi, perlu jarak untuk membuatnya tidak sesak.

Bagai runutan peristiwa, perlu jeda untuk mampu mengenang episode yang sudah dilalui.

Bagai gerak, perlu kejap tarikan nafas untuk terus melaju

Thursday, February 02, 2006

Hawa Tak Memilih. Ia DIberi.

Proses tukar biodata, ta'aruf, lalu menggenapkan separuh dien. Ku telah mendengar beberapa cerita tentang kandasnya proses saat ta'aruf (pertemuan langsung) lantaran Sang Adam berkata bahwa Sang Hawa tidak sesuai dengan kriteria yang dia inginkan. Konon, Sang Hawa tidak terlalu cantik. Tipikal wanita Indonesia biasa . Kulit sawo matang, postur tubuh sedang (tidak syuurr seperti postur para artis yang sudah divermak dengan semua metode sedot lemak, botox de el el.). Sang Hawa adalah seorang muslimah sholehah yang berkontribusi bagus dalam dakwahnya. Ia juga smart, dan siap diangkaat menjadi manager domestik rumah tangga. Singkat cerita, tidak berlanjutnya ta'aruf itu karena Sang Adam menginginkan akhwat cantik. (ikhwan... juga.. manusia).

Mau bilang apa yah? Memang fitrahnya kalau Sang Adam menyukai Hawa yang cantik. Pertanyaannya, (lagi..karena hidup sebuah misteri yang banyak pertanyaan) kalau Sang Hawa tidak cantik (menurut standar kemanusiaannya Sang Adam) apakah itu suatu kesalahan? Kalau boleh memilih, mungkin Sang Hawa akan meminta untuk dilahirkan cantik dengan kulit putih, hidung bangir, mata bak kacang almond, dagu lancip, alis tebal, bibir mungil, de el el. Jangankan memilih, dilahirkan ke dunia saja sudah merupakan anugerah bagi tiap-tiap Adam atau Hawa. Masa' sih udah dikasih ati minta ampela?

Terus niyh... buat Sang Adam. Mengapa kamu menolak meneruskan ta'aruf dengan Sang Hawa yang tidak cantik itu? Dia kan hanya makhluk sepertimu dengan segala keterbatasan dan kelebihan. Kalau kamu (Adam) mencoba smart, mengapa kamu tidak protes kepada Pencipta Sang Hawa tadi. Atau minta Sang Hawa disulap menjadi cantik, secantik ngan-anganmu?

Jadi, untuk Sang Adam, kalau kamu menolak meneruskan ta'aruf dengan Sang Hawa yang tidak cantik, aku juga pengen kamu bertanya kepada Pencipta Sang Hawa, mengapa Ia tidak menciptakan semua Sang HAwa cantik seperti anganmu.

February 2nd 2006
Kupersembahkan untuk para ikhwan yang masih mendewakan kriteria fisik di atas kriteria kesholehan diri. Dengan setitik getir tertambat di hati...

5 comments:

roby said...

Jodoh adalah hal yang sudah ditetapkan Allah untuk kita. Kalopun setelah taaruf ada salah satu fihak yang tidak ingin meneruskan terlepas apapun alasannya, memang dia bukan jodoh yg telah Allah siapkan bwt kita. Yg jelas kita harus tetap khusnudzon bahwa Allah telah menyiapkan skenario terbaik bwt kita. Coz tugas kita just menyempurnakan ikhtiar, selanjutnya biarkan takdir Allah yang bicara.

faizah qurrota a'yun said...

masing2 orang punya hak untuk menentukan pilihannya..
pilih yg cantik/ganteng boleh
pilih yg cerdas boleh
pilih yg kaya boleh
pilih yg keturunan bangsawan jg boleh
yg gak boleh kalo udah ketahuan sholeh(ah) tp masih ngutamain kriteria duniawi di atas utk berpaling atau milih yg lain
gwe sih asik2 aja..
emang gw ga cakep2 amat, gak pinter2 amat, gak kaya2 amat, bukan anak bangsawan pula!!
gak ada yg bisa gw beri buat jodoh gw nanti (insya Alloh) kecuali keshalihan gw
jd gw berharap orang yg shaleh pula yg menerima keshalihan gw..

Anonymous said...

hmm saya suka mikir..pusing mikirnya, diterusin apa nggak.. karena foto kurang cantik atau apalah.. Dulu sebenarnya banyak yang suka sama saya, tapi yaa.. yang saya tahu bukan akhwat, karena ekspresi sukanya akhwat gak keliatan dan rata2 suka menghindar.

Sebenarnya bisa aja nyari calon yang cantik karena modal tampang udah mendukung, tapi nyari akhwat cantik mah susah.. yang ada juga ce' cantik non jilbab atau jiul (jilbab gaul). Deketin akhwat susah, birokrasinya ribet.. kenapa ya.. padahal mungkin siakhwatnya suka juga. Kalo semisalnya si akhwat suka sama si A, apa cintanya dipendam saja gitu ya?

btw kalo setelah taaruf, trus gak jadi, biasa bisa bikin akhwat sakit hati'kan? kenapa gak kenalan aja dulu, jadi temen, jadi belom ada omongan kearah kepernikahan dulu, sehingga si akhwat gak sakit hati kalo gak jadi.. ini gak pake pacaran. Setelah beberapa lama baru deh ngomongin kepernikahan.

dianti said...

Dear Roby dan Faizah ... I agree with you guyz.

Nah, yang seru si Pak Anonymous niyh...
Saya baca comment dari Anda 2 kali lho, untuk bisa memahami kompleksitas dalam hal pilih memilih soulmate.

Gini deyh... standar nomor satu nya Anda apaan? sholehah ataw cantik?

Trus... setelah taaruf dan ga jadi, apakah akhwat sakit hati apa nggak, cobalah ditanyakan pada akhwat yang pernah Anda ta'aruf-i. Soalnya tipikalnya beda-beda, ada yang happy ada yang mellow. Yang jelas, pada masa taaruf adalah masa sulit karena berada dalam ketidakpastian dan itu membuat ketidaknyamanan. So... Kalopun mau bertaaruf, jangan berkelamaan. Apalagi dengan alasan jadi teman dulu, berkenalan, kalo ga cocok ya tinggal, kalo cocok lanjut. Kalo seperti itu saya ko ga melihat bedanya berpacaran ya?

OK deyh Mr. Anonymous...
Selamay berikhtiar yang lurus selurus-lurusnya untuk bertemu soulmate nya.

wish U all d best

Anonymous said...

yoo. makasih atas responnya
urusan milih memilih emang suka bikin bingung.

ternyata saya masih tejebak dalam kategori antara pilihan..
tampang, gengsi almamater, usia & profesi

tampang cantik, usia sesuai, sayang profesi& almamater kurang sesuai

tampang biasa, profesi & almamater sesuai, sayang usia kurang sesuai

halah.. bingung..

tapi emang dasar co.. semua ce' juga kepingin dilahirkan cantik..

kl dipikir2 akhwat kasian jg gak bisa apply, kalo nunggu terus kasian.. sampe kapan..

kl milih akhwat atas dasar kasian, rasanya gimana gitu.. misalnya kasian dia udah segitu umurnya, pilih dia aja ah..

dasar emang pak anonymous ini.. sok laku banget seh..

binun..hahh.. sudahlah tanya emak aja :D

pak anonymous