Skip to main content

There is Always the First Time

Selalu ada 'pertama kali' untuk tiap hal yang kita alami. Tumbuh gigi pertama, hari pertama sekolah, hari pertama kerja, pertama kali naik bus, pertama kali naik pesawat, dan lain-lain. Dan yang pertama, seringnya meninggalkan kesan yang amat sangat dalam daripada yang kedua, ketiga, sampai ke-x.

Jum'at 17 Maret 2006 adalah hari pertamaku. Tebak sodara-sodara... ini adalah hari pertama aku ... (jreng-jreng) mengenakan jilbab warna putih polos (silakan kalo ga percaya). Kalaupun jilbab putih, selalu kupilih yang bercorak ramai. That's right. U know, untuk alasan estetika, aku menghindari warna putih polos. Alasan nomor satu, putih itu kalo dekil kelihatan. Tau gak, he..he.. (maap yah) udah gede begini, pernah lho, kalo lagi makan, bumbu makanan yang 'colorful' warnanya itu terciprat ke baju. Kedua, Alhamdulillah aku diciptakan dengan stock pigmen yang cukup banyak. Jadi, kalau pakai putih, mungkin wajahku akan terlihat lebih sawo matang daripada biasanya.

Dan memakai jilbab putih di hari Jum'at ini tidak aku rencanakan. Subhanallah... kuyakin ini skenarionya Allah.

Cerita lengkapnya begini,

Di beberapa perusahaan (mainly BUMN), Jum'at itu diproklamirkan sebagai hari krida. Bisa senam pagi, istirahatnya lebih lama, kostum yang dipilih pun santai. (bahkan, di perusahaan tempat aku ngantor, ga kenapa lho kalo pake jeans). Nah... Jum'at ini memang jadwal olah raga. Udah janjian sama beberapa orang teman (olah raga sendirian garing ngkalleee) untuk olah raga, walaupun rasanya malas, tapi tetap dipaksakan. Entah, di malam Jum'at itu, tubuhku rasanya cape' dan penat. Rencana menyiapkan semua keperluan untuk besok (baju olga, baju ganti, handuk), aku malah 'bobo' pulas. Zzzzhhhh.... Walhasil, Jum'at pagi-lah disiapkan semuanya.

Buru-buru, lampu kamar lagi konslet (peace !!! belom dibenerin pula euy), langsung ambil jilbab yang hm... mungkin terlihat sewarna dengan baju yang akan kukenakan sehabis olah raga. Dalam temaram dan pencahayaan yang minim, terangkutlah sebuah jilbab orange. Warnanya bagus. He..he.. padahal warna baju ganti yang dibawa itu adalah kuning kunyit. Singkat cerita, semua beres. Bismillah, kuberangkat ngantor, udah pake kostum olah raga, sampe kantor lebih pagi daripada biasanya, dan senam pagilah kami di monas.





left to right : mamad, melda, 'dianti'

Difoto pake handphonenya Mamad.

Yang foto-in kami adalah Bapak-bapak yang lagi jogging di Monas. (gile ye..).

ewn - deux - trois ... say cheese..








Kepanikan terjadi saat mau ganti. Wadouw !!!... Gimana ceritanya, baju kuning kunyit, jilbab orange bercorak hitam (ngga buanget deyh). Alhamdulillah, aku bawa back up jilbab warna putih (yang sebenernya dibawa untuk melapisi si orange tadi). Don't panic. Jilbab lapisan pun kupakai. Dan.. Hm... bagus juga, matching dengan warna rok. Tapi, entah kenapa, kayanya ga pede aja pake jilbab 'lapisan'. Tapi, cuek lah... Toh ga ada yang protes.

Makan siang, 'ndelalahnya', aku dan teman-teman memilih makan di warung tenda ayam goreng, yang di depannya ada stand berjualan jilbab, bros, dan lain-lain. Kelar makan, bayar, langsung kuhampiri mba tadi. Tembakan jitu menuju sasaran dengan pertanyaan 'Ada jilbab putih Mba?' Alhamdulillah... ada. Weis, Ga pake tawar menawar, transaksi lunas.

Balik ke kantor, shalat dzuhur, ganti jilbab putih polos. Hm... pertama kali buanget niyh pake jilbab putih polos. Rada 'beda' aja, tapi ga masalah.

If this is the firs time, there will be the second, the third, and so on. Tapi teteup aja, sepertinya jilbab putih polos bukan pilihan utamaku. Pabila masih ada warna lain, atau jilbab putih bercorak ramai, aku cenderung memilih salah satu dari mereka.

Wisma Antara 17/3/2006
Jum'at siang, setelah mengenakan jilbab putih polos yang baru beli di gang senggol.
Jangan pada protes yeah, aku menulis ini tanpa tendensi apa-apa lho.
Buat pada yang lebih prefer pakai jilbab putih polos dibandingkan yang bercorak, mangga atuh... silakan dipakai.


Comments

Popular posts from this blog

Untukmu Dianti (Segaris Renungan)

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Dianti... Apakah sekam itu tetap kau pendam dan tidak kau jadikan ia padam? Kau sadar bahwa hatimu sudah lelah Rasanya kau belum berupaya sepenuhnya pasrah Dianti ... Bukanlah suatu hal yang nista ketika kau jujur pada dirimu sendiri Bahwa ego itu musti kau letakkan di titik terendahnya Tuk jujur pada dirimu dan pada dunia bahwa kau pernah rapuh Dianti ... Ya, kau bukan malaikat Hatimu bisa tergores dan kemudian perih Tapi tidak ada luka yang tidak kering Asalkan kau rawat luka itu untuk kau sembuhkan Dan kemudian lupakan bahwa kau pernah terluka Dianti ... Kau tau kau memiliki hari-hari indah Bersama orang-orang yang menyayangimu Dianti ... Energimu besar bagai sumber kinetik di muka bumi ini Ulangi lagi saat kau gerus energimu untuk hal yang menyibukkan pikiranmu Untuk semua kebaikan yang dapat kauhasilkan Sehingga kau lelah fisik Bersamaan kau bahagia secara psikis Dianti... Nampaknya Kau belum sepenuhnya mengembalikan semua persoalanmu padaNya. Apa yang menyul...

Rain Lover

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Pagi ini, dalam hati gwe berdoa, minta sama Allah supaya hujan.  Alhamdulillahdi kantor gw hujan, dan dapet info dari si mba di rumah, di rumah juga hujan.  Yess... sesuka itu gw sama hujan.  Dari dulu, dari jaman gw sekolah.  Gwe suka petrikor, alias aroma tanah yang keluar setelah hujan turun. Dulu gwe menyebutnya 'bau debu', he..he.. Namun kemudian hari gw baru tau, itu istilahnya petrikor.  Selain itu, vibes hujan adalah tenang. Kita yang biasanya rush in every activities, kek menjadi calm sejenak. Slowing down... Bukan untuk bermalasan, tapi untuk 'jejek' atau grounded, menghayati apa yang lagi dirasa, dikerjain, dikepengenin. tsaaahhh... lagi cakep nih kalimatnya . 😂  Jujur, suka miris kalo ada orang yang komentar, "Aduh, hujan nih....". Ya Allah, hujan senyaman itu, rahmat dari Allah, yang lazimnya kita syukurin.  Dan untuk rekan-rekan di luar sana yang terdampak karena hujan, misalnya daerah rumahnya banjir, well, ini mem...

KTP Anak Lanang...

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Ada perasaan nyess, saat hari ini anak lanang kami ambil  KTP. Alhamdulillah dia genap 17 tahun di 30 Oct lalu. Ya Allah,,, Alhamdulillah bisa sejauh ini membersamai anak lanang satu ini. Jujur gw jauh dari sosok ibu yang sabar, kreatif, bervisi, jago masak, U name it lah kriteria idealnya seorang Ibu. Yang gw tau, gw sayang anak gwe, pengen dia jadi hamba Allah yang taat, bermanfaat, sukses, bahagia, selamat dunia akhirat.  Baby yang dulu 'botoh', hari ini officially jadi dewasa sesuai peraturan negara, Tsaah... Ah makind ewasa doa orang tua makin panjang, ternyata. Gw mulai berdoa dia dapet mantu yang shalihah, sekufu, greenflag. Tak lupa gw pun mendoakan dia jadi suami greenflag. Dan yang penting, mantunya itu sayang tulus sama gw... Gw in sya Allah bakal jadi mertua yang sayang dengan tulus kok. Apalagi kalo mantu gw anak orang kaya . eh.. keceplosan. ha..ha..  Lah ga papa juga sih, kan berarti in sya Allah gw bisa berkolaborasi dalam kebaikan. A...