Skip to main content

Ekspor - Impor

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i

Kali ini, mau membicarakan nasib bangsa ini lagi. cie...
Demi cintaku pada bangsa ini, tanah airnya, rakyatnya (exclude pejabat yang ga punya good manner).

Kalo bangsa ini mengekspor sesuatu ke luar negeri, pasti yang dikirimkan adalah kualitas terbaik. Misalnya produk pakaian, pasti sebelum dikirimkan melewati QC yang sangat ketat.
Hal nya juga dengan makanan. Ibuku cerita, temannya yang mengelola perkebunan di Lembang pernah mendapati pengalaman nerharga sehubungan dengan ini. Kebiasaan orang Indonesia kalo menyiram tanaman seperti kangkung atau bayam, menyiramnya menggunakan air yang berada di selokan dekat dengan ladang sayur tersebut. Nah... suatu waktu, jenis sayuran ini akan diekspor ke Jepang. Dan setelah diteliti, ternyata para Japanesse ga mau, karena sayuran tersebut ga higienis. he..he.. Beda sekali ya, dengan kita, yang kayanya udah 'kebal' dengan ke-non-hygienis an kaya gitu.

Tapi kalo impor, kenapa bangsa ini ga bisa mengetatkan pengawasannya??
Misalkan untuk makanan, sebelumnya heboh dengan susu baby yang ada bakterinya. Trus, saat ini lagi heboh makanan / minuman yang ada melaminnya. Duhhh... ada ga siyh, pihak yang memberlakukan QC untuk barang import? Nda cuma untuk makanan, tapi untuk all product. Bahkan merk terkenal sekalipun, mustinya kudu lewat QC yang ketat.

Semisal kosmetik, pakaian, de el el. Apakah semua barang itu sudah halal dan thoyib untuk digunakan oleh bangsa tercinta ini? Apakah ada efek tertentu jika barang-barang tersebut digunakan ? Heran, izzah nya ke mana ya? mentang-mentang barang import kayanya percaya 100 % kalo itu aman. huuhhhh...

Jadi, mungkin saat ini aku hanya bis amenyarankan, untuk kita sebagai konsumen, carilah barang yang halal dan thoyib.

Untuk importir, please hanya mengimport barang-barang yang halal dan thoyib, yang kalo perlu di-QC kan dulu. Mungkin Anda mengeluarkan dana besar untuk proses QC itu. Tapi yakinlah, itu untuk kemashlahatan dan insya ALLAH harta Anda lebih dari sekedar banyak, tapi berkah.

WA Lt. 11 jam 8.50
17/10/2008

Comments

Popular posts from this blog

Just a Happy Tear

Just A Happy Tear Just a tear and a warm smile Far away of thousand miles And a gentle whisper pray Watching you fly away Leaving this hectic world Leaving all the suffers Leaving all the damns Go to The Most Gracious The Most Merciful Be your Angel's Mom and Dad and proud we all You guys.. The Rijalush Sholihiin Have no propper place in this tiny world Only heaven could answer your Beg Just a happy tear I have Begging to be one of your friend (dedicated to Imad Aqil, Fatih Farahat & All The Syahid Palestinians)

Libur Tlah Tiba...

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i sumber gambar : https://parador-hotels.com/blog/apa-itu-paid-vacation In sya Allah, dari W2 dan W3 Juni 2025, bocils gw udah pada rapotan dan libur. Ga ada yang ga seneng libur kan? Baik itu emak, bapak, bahkan si bocils sendiri. Walaupun kami karajo, tapi kalo anak-anak di rumah, rasanya tenteram ajah... Apalagi ada si anak lanang yang di pesantren sejak dari SMP. Kalo dia pulang, rasa seneng ajah.  Tapi memang sih, kadang deg deg an kalo anak lanang gw ini pulang ke rumah. Karena dia kalo ngider-ngider naik motor suka ga kenal waktu, dan jelajah lokasi. Hadeh... Satu sisi gw bersyukur, karena fitrah laki-lakinya untuk explore the outside berkembang dengan baik. Satu sisi gw kepikiran, karena si anak lanang ini suka ga pake helm dan suka menjelajah tanpa batas. Ditambah lagi, kalo si mba asisten udah curcol, "Bund, anak lanang dari jam xx naik motor belum pulang.". Duh,,, auto ovt deyh gwe... Udah dinasehatin, tetep ajah begitu... Kadang gwe berusaha me...

Cerita si Anak Lanang

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i https://www.freepik.com/premium-ai-image/mother-son-love-relationship-mothers-day-style_278929692.htm Ahad lalu adalah kali kedua yang berturut-turut, dimana anak lanang minta peprulangan saat jadwal penjengukan. Yang pertama adalah dua pekan sebelumnya.  Dan memang sektar sebulanan ini, ada rasa rindu, kangen, dengan anak lanang. Ternyata... memang ada sesuatu dengan dia.  Kemaren dia pulang,dan nampaknya mager sekali untuk balik ke pesantren. Sepertinya karena bosan. Lalu kami ngobril, dikilik-kilik lebih detail, ternyata ada beberapa hal yang membuat dia resah...  1. Ada temannya yang toxic, yang kerap mengeluh kebijakan pesantren, baik mengenai dia tidak mendapat izin keluar, atau tidak betah, dan lain-lain.  2. Anak lanang melihat teman-temannya yang bersekolah reguler bisa naik gunung, jalan-jalan. Sedangkan dia 'terkungkung' di pesantren.  3. Nilainya yang turun.  4. Rasa malas tahajud.  Well well...  Semuanya wajar sa...