Skip to main content

Dependable di Kondisi Independent

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i

Kamis malam dalam perjalanan dari Barito Blok M ke Kampung Melayu, di dalam bus yang penuh sehingga aku bisa mengenang lagi romansa sewaktu aku kuliah, Mulai terfikir hal ini.

Melewati Gatot Subroto, trus ngelihat SPBU Shell. Terang benderang dan luas. Nyaman deyh pokoknya. Lupa deyh... apakah saat aku berkendara (which is, tentunya jadi penumpang secara aku belum upgrading skill nyetirku).

Pemandangan di depanku itu ... mobil mewah berjejer, lagi isi bensin, trus ada petugas yang ngelap-ngelap kaca mobil. Nyamannya ya kalo berkendara sendiri ... Anyway, harga bensin per liter nya sama ga ya, seperti di SPBU lainnya? :)

Trus ... jadi ada yang menggelitik pikiranku. Let's say ada 3 tokoh di SPBU itu :
1. pengendara mobil
2. Petuga SPBU Shell
3. Owner Shell, which is USA.

OK...
Trus... hi..hi.. kok gwe jadi geli sendiri ya. dan juga miris. Begini alurnya :
1. Si pengendara mobil membayar petugas SPBU yang men-servis mereka. SO... dalam hal ini si pengendara mobil menjadi boss dunks (secara dia yang punya duit dan dilayani).
2. Si petugas SPBU digaji oleh Shell (let's say, Shell itu reps nya USA.). Petugas bekerja untuk Shell, so yang dependent adalah petugas SPBU ke Shell (hm... bisa juga siyh, keduanya saling dependent. tapi kali ini gwe mo lihat dari sisi petugas ke Shell aja ya)
3. Shell itu perlu menggaji petugasnya. SO, dia perlu income. Income nya didapat dari para pembeli bensin di SPBU Shell. Secara pengendara mobil yang butuh bensin, maka ada 'dependent' dari pengendara mobil ke Shell.
4. Pengendara mobil merasa nyaman beli bensin di SPBU SHell daripada di SPBU punya sendiri (kayanya yah... he..he.. Ya logis tho, secara Shell nyediain tempat yang lebih nyaman). Kalo mencoba berfikir hiperbolik, akan muncul pendaapat bahwa pengendara mobil bakalan addict beli bensin ke shell (hweks... kayanya ga gitu-gitu amat deyh. Eh.. tapi could be kan???)

(mulai keder mode : on)

Nah.. kalo ditelusuri, rasanya ada dua pihak yang berkecenderungan dependent ke satu pihak. Dan itu adalah ....
Pengendara mobil & petugas SPBU yang (cenderung) dependent ke Shell. Kasian ya kita.
Udah kita membayar dan dibayar upah sesama kita, memeras tenaga sesama kita untuk melayani sesama kita, trus ternyata duitnya lari ke negeri nun jauh di sana. Dah gitu... curiga juga sebagian duitnya (besar ato kecil aku ga tau) dipake buat mengalirkan darah-darah sodara kita di bumi Al Quds.

Kapan alur begini akan stop?
Ya jawabannya... kalo kita mau menjatuhkan egoisme terendah kita untuk lebih memperkaya masukan ke kantong negeri sendiri (hiks... keinget juga, kalo masuk ke kantong negeri sendiri, ya di sini emang bener-bener masuk 'kantong sendiri' alias di corrupt.

Duh maaf ya, kayanya tulisan ini ga berujung. Ya... intinya gitu la ya. Kalo gwe tuh pengen kita melepaskan diri dari dependable kita ke pihak lain yang malah 'menusuk' kita dari belakang depan atas bawah kanan kiri.

Moga bermanfaat. Allahu A'lam.

WA Floor 11 jam 1.17
16/2/2007

Comments

Popular posts from this blog

Untukmu Dianti (Segaris Renungan)

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Dianti... Apakah sekam itu tetap kau pendam dan tidak kau jadikan ia padam? Kau sadar bahwa hatimu sudah lelah Rasanya kau belum berupaya sepenuhnya pasrah Dianti ... Bukanlah suatu hal yang nista ketika kau jujur pada dirimu sendiri Bahwa ego itu musti kau letakkan di titik terendahnya Tuk jujur pada dirimu dan pada dunia bahwa kau pernah rapuh Dianti ... Ya, kau bukan malaikat Hatimu bisa tergores dan kemudian perih Tapi tidak ada luka yang tidak kering Asalkan kau rawat luka itu untuk kau sembuhkan Dan kemudian lupakan bahwa kau pernah terluka Dianti ... Kau tau kau memiliki hari-hari indah Bersama orang-orang yang menyayangimu Dianti ... Energimu besar bagai sumber kinetik di muka bumi ini Ulangi lagi saat kau gerus energimu untuk hal yang menyibukkan pikiranmu Untuk semua kebaikan yang dapat kauhasilkan Sehingga kau lelah fisik Bersamaan kau bahagia secara psikis Dianti... Nampaknya Kau belum sepenuhnya mengembalikan semua persoalanmu padaNya. Apa yang menyul...

Rain Lover

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Pagi ini, dalam hati gwe berdoa, minta sama Allah supaya hujan.  Alhamdulillahdi kantor gw hujan, dan dapet info dari si mba di rumah, di rumah juga hujan.  Yess... sesuka itu gw sama hujan.  Dari dulu, dari jaman gw sekolah.  Gwe suka petrikor, alias aroma tanah yang keluar setelah hujan turun. Dulu gwe menyebutnya 'bau debu', he..he.. Namun kemudian hari gw baru tau, itu istilahnya petrikor.  Selain itu, vibes hujan adalah tenang. Kita yang biasanya rush in every activities, kek menjadi calm sejenak. Slowing down... Bukan untuk bermalasan, tapi untuk 'jejek' atau grounded, menghayati apa yang lagi dirasa, dikerjain, dikepengenin. tsaaahhh... lagi cakep nih kalimatnya . 😂  Jujur, suka miris kalo ada orang yang komentar, "Aduh, hujan nih....". Ya Allah, hujan senyaman itu, rahmat dari Allah, yang lazimnya kita syukurin.  Dan untuk rekan-rekan di luar sana yang terdampak karena hujan, misalnya daerah rumahnya banjir, well, ini mem...

KTP Anak Lanang...

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Ada perasaan nyess, saat hari ini anak lanang kami ambil  KTP. Alhamdulillah dia genap 17 tahun di 30 Oct lalu. Ya Allah,,, Alhamdulillah bisa sejauh ini membersamai anak lanang satu ini. Jujur gw jauh dari sosok ibu yang sabar, kreatif, bervisi, jago masak, U name it lah kriteria idealnya seorang Ibu. Yang gw tau, gw sayang anak gwe, pengen dia jadi hamba Allah yang taat, bermanfaat, sukses, bahagia, selamat dunia akhirat.  Baby yang dulu 'botoh', hari ini officially jadi dewasa sesuai peraturan negara, Tsaah... Ah makind ewasa doa orang tua makin panjang, ternyata. Gw mulai berdoa dia dapet mantu yang shalihah, sekufu, greenflag. Tak lupa gw pun mendoakan dia jadi suami greenflag. Dan yang penting, mantunya itu sayang tulus sama gw... Gw in sya Allah bakal jadi mertua yang sayang dengan tulus kok. Apalagi kalo mantu gw anak orang kaya . eh.. keceplosan. ha..ha..  Lah ga papa juga sih, kan berarti in sya Allah gw bisa berkolaborasi dalam kebaikan. A...