Skip to main content

Fasenya Memang Seperti Itu ...

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i

Seorang teman (Mr. coolman) tadi malam curhat. memuntahkan semua rasa eneg yang menimpa dia, dan semua pencetusnya adalah pekerjaan.

Sejauh aku menganalisa dia, sangat ekstrim apa yang dia lakukan dulu (di awal dia kerja di perusahaan ini) dan sekarang (tahun ke-2 kontrak kerjanya). Dulu, datang pagi, pulang jam 8 malem, tasking dari orang lain pun dia handle. Sekarang sungguh berkebalikan, pulang jam 4 teng, berani nolak tasking dari pihak lain yang merepotkan dia.

Kenapa bisa gitu?
1. Dia kerja ga ada tujuan yang jelas tentang karier. Karena nasib anak kontrak di perusahaan ini memang tidak dijamin untuk menjadi permanent staff, yang kemudian bisa menggapai karier sampai level ia terpuaskan.
2. Ga ada apresiasi dari atasannya, baik berupa selembar penilaian performansi kerja, ataupun bentuk lain yang lebih special daripada sekedar 'thank you ...'

Trully, yang aku alami juga ga jauh beda dengan dia. Dan ... setiap fase dalam hidup kita adalah pilihan. Mau lanjut dengan kondisi itu, atau keluar. Dan pastinya fase itu musti dilewati setiap orang kan? Esensi hidup itu adalah bagaimana kita mensikapi semua hal yang kita hadapi tho ??? [ngerefer ke artikelnya harun yahya].

Aku ga menyarankan untuk stay atau stuck di tempat itu. Yang aku encourage, baik terhadap diriku sendiri ataupun temanku itu adalah ...
sadarilah bahwa setiap fase itu seperti 2 sisi mata uang : anugerah dan ujian
. Niyh contohnya : seorang single yang married, married nya adalah anugerah, tapi dibalik itu, dia musti dealling dengan kerja keras merubah habit 'single'nya seperti jalan kemana dia suka, bangun siang, un-organized, dll. Jadi, apapun yang kita hadapin saat ini, itu bukanlah sesuatu yang terbuuruk, itu hanya perjalanan, dan akan berganti. Jadi ya jalanin aja, gaperlu ngeluh, kuatin diri, dan sabar. Kalopun mo nangis, nangis lah ke Pembuat Segala Sesuatu Yang Terjadi Itu.

WA Lt. 11 jam 8.10 21/11/2007

Comments

Alfa G Harahap said…
gua juga skarang berpikir hal yg sama. nasib juga sbg karyawan kontrak. 3 tahun trakhir, kerja pindah2, kontrak2 melulu, dan gua akhirnya bertanya2 bisakah gua menemukan sebuah perusahaan yg nantinya akan membantu dlm karir gua ? rasanya kalo tiap kali harus liat2 lowongan lagi, seperti lagi2 balik dari nol. lagi2 cuti harus nunggu setahun kerja, lagi2 harus nunggu setahun utk dapet thr, lagi2 dianggep sbg anak baru, ah pusing lama2.

Popular posts from this blog

Just a Happy Tear

Just A Happy Tear Just a tear and a warm smile Far away of thousand miles And a gentle whisper pray Watching you fly away Leaving this hectic world Leaving all the suffers Leaving all the damns Go to The Most Gracious The Most Merciful Be your Angel's Mom and Dad and proud we all You guys.. The Rijalush Sholihiin Have no propper place in this tiny world Only heaven could answer your Beg Just a happy tear I have Begging to be one of your friend (dedicated to Imad Aqil, Fatih Farahat & All The Syahid Palestinians)

Libur Tlah Tiba...

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i sumber gambar : https://parador-hotels.com/blog/apa-itu-paid-vacation In sya Allah, dari W2 dan W3 Juni 2025, bocils gw udah pada rapotan dan libur. Ga ada yang ga seneng libur kan? Baik itu emak, bapak, bahkan si bocils sendiri. Walaupun kami karajo, tapi kalo anak-anak di rumah, rasanya tenteram ajah... Apalagi ada si anak lanang yang di pesantren sejak dari SMP. Kalo dia pulang, rasa seneng ajah.  Tapi memang sih, kadang deg deg an kalo anak lanang gw ini pulang ke rumah. Karena dia kalo ngider-ngider naik motor suka ga kenal waktu, dan jelajah lokasi. Hadeh... Satu sisi gw bersyukur, karena fitrah laki-lakinya untuk explore the outside berkembang dengan baik. Satu sisi gw kepikiran, karena si anak lanang ini suka ga pake helm dan suka menjelajah tanpa batas. Ditambah lagi, kalo si mba asisten udah curcol, "Bund, anak lanang dari jam xx naik motor belum pulang.". Duh,,, auto ovt deyh gwe... Udah dinasehatin, tetep ajah begitu... Kadang gwe berusaha me...

Air Dari Langit

s.p.a.s.i...s.p.a.s.i Foto: Freepik Jujur, pengen ngomongin hujan sih. he..he.. Tapi biar ada rasa bahasa yang lain, gw menulisnya sebagai air dari langit. Entah udah pernah atau belum gw menulis tentang hujan.  Gw suka hujan. Bahkan cinta. Cinta yang tanpa syarat.  Gwe suka hujan karena... hawa adem yang dibawanya.  Yess, setuju kan, saat hujan, walaupun kadang udara terasa lembab, tapi derasan air yang turun mampu membuat hawa di sekitarnya.  Gwe suka hujan karena... splash air yang menimpa wajah gw, biarpun terasa tajam.  Yups, believe it or not, kalo saat hujan berbonceng dengan pak suami, gw suka angkat kaca penutup helm, dan kain slayer. Jujur gwe menikmati cipratan air penuh berkah nan bersih itu ke muka gwe. Seseru itu.  Gwe suka hujan karena... aromanya. Dulu sebelum gw tau namanya petrikor, gw menyebutnya bau debu.  Air hujan bercampur dengan tanah, that's the smell.  Dan sebenernya aroma mirip seperti itu bisa gw dapatkan, saat kita men...